Selasa, 15 Mei 2012

MENANTI KATA-KATA (BAG-1)

Hujan masih terus mengguyur sejak kemarin pagi. Titik-titik airnya mulai menggenangi halaman rumahku. Bergegas aku membuka payung dan melangkahkan kaki menuju ke sekolah. Rasanya sungguh gelisah ketika hujan deras tidak juga berhenti. Aku jadi teringat berita-berita di koran tentang bencana banjir atau tanah longsor karena hujan yang turun tiada henti. Tetapi kalau dipikirkan lagi bukan hujan yang harus disalahkan sebab hujan itu adalah anugerah dari Tuhan. Namun kita sebagai manusia yang tidak bisa menjaga lingkungan sekitarnya. Kitalah yang telah merusak lingkungan hingga setiap kali hujan turun berkepanjangan datanglah banjir juga tanah longsor.

            “Tata!” panggil seseorang dari arah belakangku.
            Aku menengok dan melihat Lulu sahabatku sedang berlari-lari mengejarku. Beberapa tetes air hujan menimpa wajahnya yang tidak tertutup rapat oleh jas hujan yang sedang dipakainya.
            “Tata!” seru Lulu lagi dengan nafas terengah-engah. “Kamu sudah dengar belum?”
            “Soal apa?” tanyaku sambil menggeleng.
            “Semalam tebing yang berada di dekat rumahku runtuh,” beritahu Lulu. “Untung saja rumahku tidak dibawah tebing. Tapi ada beberapa rumah tetanggaku yang hancur, termasuk rumah Tina,” sambungnya lagi.
            “Rumah Tina hancur?” teriakku kaget. “Terus Tina sekarang tinggal dimana?” ujarku prihatin.
            “Di Balai Desa. Ia mengungsi kesana,” jawab Lulu kemudian.
            Saat itu sekolah sudah tampak ramai. Ternyata kabar hancurnya rumah Tina yang terkena tanah longsor sudah menyebar ke seluruh sekolah. Pihak sekolah bahkan meminta kami untuk membantu semua korban dengan mengumpulkan baju-baju bekas, makanan serta uang.
            Esok paginya sudah terkumpul banyak sekali bantuan dari para siswa. Semua siswa kelas 5 diminta untuk merapikan dan membungkusnya serta membagikannya kepada semua korban. Aku bersama Lulu dan teman-teman sekelasku sibuk membereskan semua bantuan yang menumpuk di ruang kegiatan. Kami sengaja memisahkan antara makanan, baju juga uang yang telah terkumpul. Setelah semua siap bersama wali kelasku, Bu Eko, kami berjalan menuju tempat pengungsian para korban tanah longsor itu.
            Baru kali ini aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri korban bencana alam yang terpaksa tinggal di pengungsian. Mereka semua ditempatkan di Balai Desa. Begitu banyak orang berjejalan disana. Dari mulai bayi, anak-anak, orang dewasa, sampai kakek nenek semua berada di ruangan yang sama. Hatiku sedih melihat keadaan mereka. Semua tampak murung dan lesu. Tak ada senyum, tawa apalagi canda. Mereka tampak berduka karena kehilangan harta benda yang dimiliki. Bahkan ada beberapa yang kehilangan anggota keluarganya.
            Mataku mencari-cari Tina dan keluarganya. Ternyata ia ada di ujung ruangan. Saat melihat kedatangan kami Tina bergegas menghampiri. Wajahnya penuh airmata. Ia tampak begitu pucat hingga membuat kami semua ikut menangis. Rumah Tina hancur karena tertimbun tanah namun mereka semua selamat. Tetapi tetangga sebelah rumahnya hampir semua anggota keluarganya menjadi korban. Hanya gadis cilik berumur 9 tahun yang bernama Neti yang selamat karena kebetulan ia sedang menginap di rumah Tina. Saat itu Neti terus menggenggam erat tangan Tina. Ia tidak menangis meski wajahnya lebih pucat dari Tina. Ia hanya diam. Tak sepatah katapun yang diucapkannya saat kami semua menyapa dan menghiburnya. Pasti sangat berat baginya harus kehilangan seluruh anggota keluarganya.
            Selesai membagikan bantuan kami mendoakan semua korban tanah longsor. Tak lama kemudian kamipun berpamitan untuk kembali ke sekolah. Sepanjang perjalanan aku tak dapat melepaskan ingatanku dari Neti. Bahkan selama sisa pelajaran yang ada aku terus gelisah. Bayangan wajah Neti tak mau hilang dari benakku. Aku teringat wajah pucatnya. Aku teringat sikap diamnya. Dan semua itu membuat hatiku semakin sedih.
            Malam telah larut namun aku tak dapat memejamkan mataku. Bayangan korban tanah longsor yang siang tadi aku temui membuatku terjaga.
            “Apakah Tina bisa tidur nyenyak?” batinku resah. “Dan Neti?” lagi-lagi aku teringat padanya. “Pasti ia sedih karena harus tidur sendiri tanpa ditemani orang tua juga saudaranya,” gumamku lagi.
            Ingin sekali aku menghapus kesedihan di wajah teman-temanku. Aku ingin membuat Tina tersenyum lagi. Aku juga ingin membuat Neti bisa tertawa. Aku harus berusaha membuat bahagia teman-temanku kembali. Dan malam itu pikiranku terbang kemana-mana.



2 komentar: